Login
|
PENGUCURAN anggaran pemerintah hingga Rp120 triliun dalam waktu sebulan ke depan diprediksi dapat mengurangi segmentasi likuiditas yang belakangan terjadi di sektor perbankan. Segmentasi likuiditas di antara perbankan kita saat ini masih terjadi. Tapi ini tidak cukup diatasi dari sisi moneter, sektor riilnya juga mesti diutak-atik. Realisasi anggaran Rp120 triliun itu akan sangat membantu, ujar Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah di Jakarta, akhir pekan lalu. Kendati anggaran pemerintah pada umumnya digelontorkan melalui bank-bank BUMN, ia mengatakan hal tersebut tidak berarti mempertajam segmentasi likuiditas perbankan. Sebab, dana tersebut tak hanya akan berputar-putar di bank pelat merah. Departemen atau pemda harus membayar kontraktor proyek yang memiliki rekening di bank lain. Itu banknya kan bisa beda-beda, jadi uangnya berputar, jelas Halim. Mantan Gubernur BI Adrianus Mooy mencermati segmentasi likuiditas bank terjadi karena adanya ketidakpercayaan antarbank. Mereka enggan saling memberikan pinjaman di tengah kekhawatiran terjadinya penarikan dana secara masif oleh nasabah. Interbank market tampaknya tidak jalan karena bank besar yang kelebihan likuiditas takut ada penarikan nasabah berhubung yang dijamin hanya Rp2 miliar, jelas Adrianus. Dana pihak ketiga (DPK) bank-bank besar seperti BNI, Bank Mandiri atau BCA, kini makin menggelembung. Dalam periode akhir Agustus hingga pertengahan Oktober, DPK BNI naik Rp17,1 triliun. Pengamat menengarai kenaikan DPK bank-bank besar tersebut disebabkan adanya pengalihan dana oleh nasabah bank menengah kecil karena sentimen terhadap krisis likuiditas yang sempat dialami Bank Century. Halim menyatakan bengkaknya DPK bank-bank besar lebih disebabkan faktor kurs. Selain itu, BI juga telah merileksasi aturan giro wajib minimum dari 7,5% menjadi 5%. Dirut Bank Sinarmas Tjendrawati membenarkan terjadinya peralihan simpanan nasabah. Namun, itu tidak signifikan karena DPK Bank Sinarmas masih meningkat dalam tiga bulan belakangan. Hal itu juga diamini oleh Dirut Bank Swadesi Lisawati yang membantah adanya pengalihan simpanan besar-besaran. (Sha/Toh/JJ/*/E-5) |

